Jabir bin Hayyan: Peletak
Dasar Ilmu Kimia dan Sains Modern
Selain Imam Ja’far, Jabir telah pula mendatangi guru lainnya seperti Udha
Al-Himar yang kala itu masih merupakan rekan seangkatan dari Khalid Barmaki,
dan Yahya. Jabir sempat pula menunjukkan beberapa tulisnya kepada para gurunya
itu. Karena kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, Jabir banyak bergaul dengan
kalangan orang-orang yang juga mencintai pengetahuan. Karena itu, dapat
dipahami bila kemudian Jabir juga menjalin hubungan baik dengan para pembesar
istana. Dengan dilandasi kesamaan kepentingan keilmuan, Jabir bergaul baik
dengan keluarga Barmak dan khalifah Harun al-Rasyid. Hubungan baik ini terus
berlangsung sampai kemudian, terjadi fitnah terhadap keluarga Barmak. Dengan
kejadian fitnah tersebut, Jabir juga kemudian mengambil langkah antisipatif
menjauh dari Baghdad dan berpindah ke Thusi.
Untuk menunjang kegiatan ilmiahnya, Jabir sewaktu berada di Kufah kemudian mendirikan sebuah laboratorium sederhana, yang dirancangnya sesuai dengan kebutuhan masa itu. Sebagai cikal bakal laboratorium pertama, laboratorium tersebut dibuatnya untuk menunjang eksperimen yang akan dilakukannya. Di dalamnya hanya ada beberapa tabung yang diletakkan di atas sebuah tungku pemanas. Sementara di tempat lain terlihat ada beberapa tabung yang berisi bahan-bahan dengan takaran dan ukuran tertentu. Ketika Jabir membutuhkan bahan-bahan yang perlu diaduk atau dihaluskan, maka lesung penumbuk pun sudah disiapkannya. Sebuah lesung yang terbuat dari emas murni yang beratnya tidak kurang dari 200 rithel (1 rithel Syria = 2, 564 kg). Demikian sedikit gambaran laboratorium yang dimiliki oleh ilmuwan Muslim ahli kimia ini, dan kelak dari tempat sederhana itu, Jabir dengan segudang prestasinya mendapat gelar sebagai “Guru Besar Kimia dalam Islam”. Gelar yang memang patut disandang oleh Jabir atas perhatiannya yang begitu besar terhadap ilmu kimia serta keahliannya yang luar biasa, sehingga orang pun menyebut sebagai “Hasil Karya Jabir” (The Works of Geber).
Untuk menunjang kegiatan ilmiahnya, Jabir sewaktu berada di Kufah kemudian mendirikan sebuah laboratorium sederhana, yang dirancangnya sesuai dengan kebutuhan masa itu. Sebagai cikal bakal laboratorium pertama, laboratorium tersebut dibuatnya untuk menunjang eksperimen yang akan dilakukannya. Di dalamnya hanya ada beberapa tabung yang diletakkan di atas sebuah tungku pemanas. Sementara di tempat lain terlihat ada beberapa tabung yang berisi bahan-bahan dengan takaran dan ukuran tertentu. Ketika Jabir membutuhkan bahan-bahan yang perlu diaduk atau dihaluskan, maka lesung penumbuk pun sudah disiapkannya. Sebuah lesung yang terbuat dari emas murni yang beratnya tidak kurang dari 200 rithel (1 rithel Syria = 2, 564 kg). Demikian sedikit gambaran laboratorium yang dimiliki oleh ilmuwan Muslim ahli kimia ini, dan kelak dari tempat sederhana itu, Jabir dengan segudang prestasinya mendapat gelar sebagai “Guru Besar Kimia dalam Islam”. Gelar yang memang patut disandang oleh Jabir atas perhatiannya yang begitu besar terhadap ilmu kimia serta keahliannya yang luar biasa, sehingga orang pun menyebut sebagai “Hasil Karya Jabir” (The Works of Geber).
Jabir
Ibn Hayyan-lah yang menemukan asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam
asetat, tehnik distilasi dan tehnik kristalisasi. Dia juga yang
menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam
nitrat) untuk melarutkan emas.
Jabir Ibn Hayyan mampu mengaplikasikan
pengetahuannya di bidang kimia kedalam proses pembuatan besi dan logam lainnya,
serta pencegahan karat. Dia jugalah yang pertama mengaplikasikan
penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.
Jabir
Ibn Hayyan juga pertama kali mencatat tentang pemanasan wine akan menimbulkan
gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk
menemukan etanol.
Jika
kita mengetahui kelompok metal dan non-metal dalam penggolongan kelompok
senyawa, maka lihatlah apa yang pertamakali dilakukan oleh Jabir. Dia
mengajukan tiga kelompok senyawa berikut:
1) “Spirits“ yang menguap ketika dipanaskan, seperti camphor, arsen dan amonium klorida.
2) “Metals” seperti emas, perak, timbal, tembaga dan besi; dan
3) “Stones” yang dapat dikonversi menjadi bentuk serbuk.
1) “Spirits“ yang menguap ketika dipanaskan, seperti camphor, arsen dan amonium klorida.
2) “Metals” seperti emas, perak, timbal, tembaga dan besi; dan
3) “Stones” yang dapat dikonversi menjadi bentuk serbuk.
Salah
satu pernyataannya yang paling terkenal adalah:
“The first essential in chemistry, is that you should perform
practical work and conduct experiments, for he who performs not practical work
nor makes experiments will never attain the least degree of mastery.”
Pada
abad pertengahan, penelitian-penelitian Jabir tentang Alchemy diterjemahkan
kedalam bahasa Latin, dan menjadi textbook standar untuk para ahli kimia eropa.
Beberapa diantaranya adalah Kitab al-Kimya (diterjemahkan oleh Robert
of Chester – 1144) dan Kitab al-Sab’een (diterjemahkan oleh Gerard
of Cremona – 1187). Beberapa tulisa Jabir juga diterjemahkan oleh
Marcelin Berthelot kedalam beberapa buku berjudul:Book of the Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern
Mercury. Beberapa istilah tehnik yang ditemukan
dan digunakan oleh Jabir juga telah menjadi bagian dari kosakata ilmiah di
dunia internasional, seperti istilah “Alkali”, dsb.
Jabir ibnu Hayyan juga
membuat instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Jabir menyempurnakan
proses dasar sublimasi, penguapan,pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur,
penyulingan, pencelupan, dan pemurnian. Ia juga meletakkan dasar teori
oksidasi-reduksi, selain juga sematan atau fiksasi, dan amalgamasi., dan oksidasi-reduksi.
Semua teknik yang digunakan kala itu kemudian menjadi dasar pengembangan kimia
modern. Khusus mengenai kalsinasi dan reduksi ia menyatakan bahwa untuk
mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata
kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan,
sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Langkah selanjutnya adalah
memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai
dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap
karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan
eksperimen. Jabir juga telah memberikan sumbangan besar di
dunia kimia dengan menemukan mineral dan asam lainnya. Terlepas dari kontribusinya meletakkan dasar ilmu kimia, termasuk secara luas mempersiapkan senyawa baru dan mengembangkan metode kimia, ia juga mengembangkan sejumlah proses kimia terapan. Tak heran jika kemudian ia menjadi pionir dalam ilmu terapan. Meski secara pesat Jabir menjadi pionir dalam bidang kimia, ia tak berhenti untuk mengembangkan ilmunya. Ia kemudian mengembangkan sebuah teori yang disebut teori keseimbangan.
dunia kimia dengan menemukan mineral dan asam lainnya. Terlepas dari kontribusinya meletakkan dasar ilmu kimia, termasuk secara luas mempersiapkan senyawa baru dan mengembangkan metode kimia, ia juga mengembangkan sejumlah proses kimia terapan. Tak heran jika kemudian ia menjadi pionir dalam ilmu terapan. Meski secara pesat Jabir menjadi pionir dalam bidang kimia, ia tak berhenti untuk mengembangkan ilmunya. Ia kemudian mengembangkan sebuah teori yang disebut teori keseimbangan.
Para ahli kimia modern
menyatakan bahwa teori tersebut menjadi terobosan baru dalam prinsip dan
praktik kimia. Dalam teorinya tersebut Jabir berusaha mengkaji keseimbangan
kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem
numerologi, yang merupakan studi makna mistis dari sesuatu dan pengaruhnya atas
hidup manusia, yang ia terapkan dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk
memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang
bereaksi. Teori ini memiliki arti esoterik, karena kemudian menjadi pendahulu
penulisan jalannya reaksi
kimia. Melalui teori ini kemudian terurailah proses pembuatan asam anorganik.
kimia. Melalui teori ini kemudian terurailah proses pembuatan asam anorganik.
Di
antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan
asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia
yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial.
Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal
Hikmahatau rongga dada kearifan.
Berdasarkan penelitian terhadap peralatan yang ditemukan di laboratorium milik
Jabir yang telah runtuh, ia rupanya telah mengelompokkan perumusan tiga tipe
berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya.
Pertama
adalah air yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada
bahan camphor, arsenik dan amonium klorida. Kedua adalah logam seperti pada
emas, perak, timah, tembaga, besi, dan ketiga adalah senyawa yang dapat
dikonversi menjadi semacam bubuk. . Penekanan Jabir Ibnu
Hayyan di badang eksperimen secara sistematis tidak ada duanya didunia.
Inilah sebabnya, mengapa Jabir Ibnu Hayyan diberi
kehormatan sebagai “bapak ilmu kimia modern” oleh para kimiawan dari seluruh
penjuru dunia. Bahkan, dalam tulisan Max Mayerrhaff disebutkan bahwa jika ingin
mencari akar mula perkembangan ilmu kimia didaratan Eropa, maka carilah
langsung karya-karya Jabir Ibnu Hayyan.
Salah satu keistimewaan para ilmuwan Muslim adalah mereka tidak hanya mampu
mendalami satu bidang ilmu pengetahuan tertentu, tetapi mereka juga mampu
menguasai bidang keilmuwan lainnya dan sangat beragam. Demikian pula Jabir,
beliau sebagai ilmuwan Muslim tidak hanya ahli dalam bidang ilmu kimia, beliau
juga ahli dalam ilmu yang lain seperti kedokteran, filsafat dan fisika. Hanya
saja dari sekian banyak ilmu yang digelutinya, tampaknya ilmu kimia lebih
melekat dan menonjol pada tokoh intelektual muslim ini. Karya-karya ilmu
kimianya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di Eropa, termasuk bahasa
Latin, dan kemudian diserap oleh ilmu kimia modern. Eropa kemudian mulai
mengenali istilah-istilah teknik seperti realiger (sulfit merah dari arsenik),
tutia (seng oksida), alkali, antimoni, alembic, dan aludel. Demikian juga
Salamoniak (sejenis substansi baru kimia) telah diperkenalkan Jabir yang
sebelumnya tidak pernah dikenal oleh orang-orang Yunani.
http://mazmimujahid.wordpress.com/2010/02/24/falsafah-pendidikan-kimia-menurut-jabir-bin-hayyan/
Republika Online &Chem-is-try.org
(fer/berbagai sumber)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar