Rabu, 07 Januari 2015

Ahli Kimia Muslim(2)

Jabir bin Hayyan: Peletak Dasar Ilmu Kimia dan Sains Modern



Selain Imam Ja’far, Jabir telah pula mendatangi guru lainnya seperti Udha Al-Himar yang kala itu masih merupakan rekan seangkatan dari Khalid Barmaki, dan Yahya. Jabir sempat pula menunjukkan beberapa tulisnya kepada para gurunya itu. Karena kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, Jabir banyak bergaul dengan kalangan orang-orang yang juga mencintai pengetahuan. Karena itu, dapat dipahami bila kemudian Jabir juga menjalin hubungan baik dengan para pembesar istana. Dengan dilandasi kesamaan kepentingan keilmuan, Jabir bergaul baik dengan keluarga Barmak dan khalifah Harun al-Rasyid. Hubungan baik ini terus berlangsung sampai kemudian, terjadi fitnah terhadap keluarga Barmak. Dengan kejadian fitnah tersebut, Jabir juga kemudian mengambil langkah antisipatif menjauh dari Baghdad dan berpindah ke Thusi.
Untuk menunjang kegiatan ilmiahnya, Jabir sewaktu berada di Kufah kemudian mendirikan sebuah laboratorium sederhana, yang dirancangnya sesuai dengan kebutuhan masa itu. Sebagai cikal bakal laboratorium pertama, laboratorium tersebut dibuatnya untuk menunjang eksperimen yang akan dilakukannya. Di dalamnya hanya ada beberapa tabung yang diletakkan di atas sebuah tungku pemanas. Sementara di tempat lain terlihat ada beberapa tabung yang berisi bahan-bahan dengan takaran dan ukuran tertentu. Ketika Jabir membutuhkan bahan-bahan yang perlu diaduk atau dihaluskan, maka lesung penumbuk pun sudah disiapkannya. Sebuah lesung yang terbuat dari emas murni yang beratnya tidak kurang dari 200 rithel (1 rithel Syria = 2, 564 kg). Demikian sedikit gambaran laboratorium yang dimiliki oleh ilmuwan Muslim ahli kimia ini, dan kelak dari tempat sederhana itu, Jabir dengan segudang prestasinya mendapat gelar sebagai “Guru Besar Kimia dalam Islam”. Gelar yang memang patut disandang oleh Jabir atas perhatiannya yang begitu besar terhadap ilmu kimia serta keahliannya yang luar biasa, sehingga orang pun menyebut sebagai “Hasil Karya Jabir” (The Works of Geber).


Jabir Ibn Hayyan-lah yang menemukan asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi dan tehnik kristalisasi. Dia juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.
Jabir Ibn Hayyan mampu mengaplikasikan pengetahuannya di bidang kimia kedalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Dia jugalah yang pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.
Jabir Ibn Hayyan juga pertama kali mencatat tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
Jika kita mengetahui kelompok metal dan non-metal dalam penggolongan kelompok senyawa, maka lihatlah apa yang pertamakali dilakukan oleh Jabir. Dia mengajukan tiga kelompok senyawa berikut:
1) Spirits yang menguap ketika dipanaskan, seperti camphor, arsen dan amonium klorida.
2) Metals seperti emas, perak, timbal, tembaga dan besi; dan
3) Stones yang dapat dikonversi menjadi bentuk serbuk.
Salah satu pernyataannya yang paling terkenal adalah:
“The first essential in chemistry, is that you should perform practical work and conduct experiments, for he who performs not practical work nor makes experiments will never attain the least degree of mastery.”
Pada abad pertengahan, penelitian-penelitian Jabir tentang Alchemy diterjemahkan kedalam bahasa Latin, dan menjadi textbook standar untuk para ahli kimia eropa. Beberapa diantaranya adalah Kitab al-Kimya (diterjemahkan oleh Robert of Chester – 1144) dan Kitab al-Sab’een (diterjemahkan oleh Gerard of Cremona – 1187). Beberapa tulisa Jabir juga diterjemahkan oleh Marcelin Berthelot kedalam beberapa buku berjudul:Book of the Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern Mercury. Beberapa istilah tehnik yang ditemukan dan digunakan oleh Jabir juga telah menjadi bagian dari kosakata ilmiah di dunia internasional, seperti istilah “Alkali”, dsb.

Jabir ibnu Hayyan juga membuat instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Jabir menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan,pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian. Ia juga meletakkan dasar teori oksidasi-reduksi, selain juga sematan atau fiksasi, dan amalgamasi., dan oksidasi-reduksi. Semua teknik yang digunakan kala itu kemudian menjadi dasar pengembangan kimia modern. Khusus mengenai kalsinasi dan reduksi ia menyatakan bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Langkah selanjutnya adalah memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Jabir juga telah memberikan sumbangan besar di
dunia kimia dengan menemukan mineral dan asam lainnya. Terlepas dari kontribusinya meletakkan dasar ilmu kimia, termasuk secara luas mempersiapkan senyawa baru dan mengembangkan metode kimia, ia juga mengembangkan sejumlah proses kimia terapan. Tak heran jika kemudian ia menjadi pionir dalam ilmu terapan. Meski secara pesat Jabir menjadi pionir dalam bidang kimia, ia tak berhenti untuk mengembangkan ilmunya. Ia kemudian mengembangkan sebuah teori yang disebut teori keseimbangan.
Para ahli kimia modern menyatakan bahwa teori tersebut menjadi terobosan baru dalam prinsip dan praktik kimia. Dalam teorinya tersebut Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi, yang merupakan studi makna mistis dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia, yang ia terapkan dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Teori ini memiliki arti esoterik, karena kemudian menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi
kimia. Melalui teori ini kemudian terurailah proses pembuatan asam anorganik.
Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal Hikmahatau rongga dada kearifan. Berdasarkan penelitian terhadap peralatan yang ditemukan di laboratorium milik Jabir yang telah runtuh, ia rupanya telah mengelompokkan perumusan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya.
Pertama adalah air yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida. Kedua adalah logam seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan ketiga adalah senyawa yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk. . Penekanan Jabir Ibnu Hayyan di badang eksperimen secara sistematis tidak ada duanya didunia.
Inilah sebabnya, mengapa Jabir Ibnu Hayyan diberi kehormatan sebagai “bapak ilmu kimia modern” oleh para kimiawan dari seluruh penjuru dunia. Bahkan, dalam tulisan Max Mayerrhaff disebutkan bahwa jika ingin mencari akar mula perkembangan ilmu kimia didaratan Eropa, maka carilah langsung karya-karya Jabir Ibnu Hayyan.

Salah satu keistimewaan para ilmuwan Muslim adalah mereka tidak hanya mampu mendalami satu bidang ilmu pengetahuan tertentu, tetapi mereka juga mampu menguasai bidang keilmuwan lainnya dan sangat beragam. Demikian pula Jabir, beliau sebagai ilmuwan Muslim tidak hanya ahli dalam bidang ilmu kimia, beliau juga ahli dalam ilmu yang lain seperti kedokteran, filsafat dan fisika. Hanya saja dari sekian banyak ilmu yang digelutinya, tampaknya ilmu kimia lebih melekat dan menonjol pada tokoh intelektual muslim ini. Karya-karya ilmu kimianya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di Eropa, termasuk bahasa Latin, dan kemudian diserap oleh ilmu kimia modern. Eropa kemudian mulai mengenali istilah-istilah teknik seperti realiger (sulfit merah dari arsenik), tutia (seng oksida), alkali, antimoni, alembic, dan aludel. Demikian juga Salamoniak (sejenis substansi baru kimia) telah diperkenalkan Jabir yang sebelumnya tidak pernah dikenal oleh orang-orang Yunani.


http://mazmimujahid.wordpress.com/2010/02/24/falsafah-pendidikan-kimia-menurut-jabir-bin-hayyan/
Republika Online &Chem-is-try.org
(fer/berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar