Kamis, 08 Januari 2015

Kedudukan Keilmuan dan Peran Jabir bin Hayyan bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan

Kedudukan Keilmuan dan Peran Jabir bin Hayyan bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan


Jabir bin Hayyan, sebagaimana terlihat dari hasil karyanya memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan peradaban Islam dan dunia secara umum, dan secara khusus bagi perkembangan ilmu Kimia. Tak dapat dipungkiri, bahwa di tangan Jabir, alkhemi yang semula lebih banyak berupa perpaduan konsepsi teoritis dan mistisisme kuno, berkembang menjadi disiplin ilmu yang harus didasari oleh eksperimen dan metode ilmiah. Apresiasi dan pengakuan terhadap kebesaran karya-karya Jabir bin Hayyan kemudian dinyatakan oleh para ilmuwan Barat maupun Islam.

Philip K. Hitti menegaskan peran penting Jabir dalam karya monumentalnya, The History of Arabs, “Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia. Dalam ilmu kimia, dan ilmu pengetahuan fisika lainnya, orang Arab telah memperkenalkan tradisi penelitian obyektif, sebuah perbaikan penting terhadap tradisi pemikiran spekulatif orang Yunani”. Nakosteen (2003) mengidentifkasi Jabir sebagai ahli kimia terbesar yang memberikan kontribusi luas pada perkembangan kimia Modern, disamping sebagai ahli kedokteran dan obat-obatan. Sementara itu, Philip K.Hitti juga menyebut Jabir sebagai bapak Kimia bangsa Arab dan tokoh terbesar dalam bidang ilmu kimia abad pertengahan selain al-Razi (w. 925 M). Pengakuan yang sama juga diberikan oleh para ilmuwan muslim terkemuka seperti Ismail Raji’ Al Faruqi, Syed Hossein Nasr, maupun sejarawan Ahmad Syalabi dan Ahmad Y. Al Hasan. Secara khusus, Al-Faruqi (1998:361-362) memberikan tempat tersendiri dalam The Cultural Atlas of Islam, berisi paragraf khusus yang memuat karya dan temuan-temuan yang dihasilkan oleh Jabir bin Hayyan.

Peran Jabir dalam mempelopori metode observasi dan eksperimen juga diakui Charles Michael Stanton. Stanton (1996:126) menyebutnya sebagai ilmuwan terbesar masa klasik yang bersandar pada observasi, eksperimen dan analisis atas hasil-hasilnya, serta menggunakan metode ini secara lebih luas dibanding ilmuwan lain, yang karena pengaruh Neoplatonisme menerima otoritas Yunani untuk menggambarkan dunia natural beserta penjelasannya yang didasarkan atas metode rasional dan logika Aristoteles. Lebih jauh, Stanton (1994:126) menggambarkan:
“ dikarenakan ciri-ciri ajaran sufinya yang mistik ini, Ibn Hayyan melakukan eksperimen tentang logam-logam dan elemen-elemen, dan mempersiapkan manuskrip yang panjang tentang kualitas spiritual dan supernaturalnya. Walaupun pada dasarnya dikerjakan dengan proses transmutasi, dia betul-betul mengembangkan prosedur-prosedur kimiawi yang bertahan lama. Dia memahami zat-zat asam dan bahan-bahan dasar (sic basa), dan mampu untuk memisahkan asam sendawa (nitric acid), aqua regia, sodium hydroxide, corrosive sublimate, antimony, bismuth, zinc, ammonia, dan phosporous. Dia juga menulis tentang sifat-sifat persenyawaan fisik dan kimiawi.

Dengan karya-karyanya tersebut EJ Holmyard menempatkan Jabir sebagai ilmuwan Arab terkemuka dan menolak kecurigaan-kecurigaan yang dilontarkan terhadapnya oleh ilmuwan-ilmuwan yang masih berprasangka. Demikian juga George Sarton yang menganggap periode Jabir sebagai masa yang penting dalam sejarah budaya keilmuan Islam. Sarton menyatakan bahwa betapa para ilmuwan tidak menyangka bila pengetahuan dan karya-karya ilmiah dalam bidang kimia yang demikian berharganya ini adalah milik seorang yang hidup pada abad ke-2 H tersebut.
Dalam karya monumentalnya Introduction to History of Science, George Sarton melakukan pembagian bab bukunya secara kronologis dan memberi nama setiap bab menurut nama ilmuwan yang paling berpengaruh pada setiap periode yang dibahas. 

Pada setiap periode 50 tahun, selama masa pertengahan abad ke-2 H (ke-8 M) hingga pertengahan abad ke-5 H (ke-11 M) judul setiap bab diambil dari nama ilmuwan muslim yang semuanya berjumlah tujuh bab. Sarton mengambil nama Jabir untuk mewakili perkembangan Sains Islam pada periode paruh kedua abad ke-8 M, disamping Ilmuwan muslim lainnya, Al-Khawarizmi (paruh pertama abad ke-9), Al-Razi (paruh kedua abad ke-9), Al-Mas’udi (paruh pertama abad ke-10), Abu al-Wafa’ (paruh kedua abad ke-10), Al-Biruni (paruh pertama abad ke-11), Omar Khayyam (paruh kedua abad ke-11), dan seterusnya.

http://mazmimujahid.wordpress.com/2010/02/24/falsafah-pendidikan-kimia-menurut-jabir-bin-hayyan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar