Sistem Koloid dan Penerapannya dalam
Kehidupan Sehari-hari
A.Pengertian
Koloid
Larutan adalah campuran
homogen dimana tidak tejadi pengendapan zat pelarut dan zat terlarut ada dalam
bentuk ion-ion atau molekul-molekul kecil. Contoh, NaCl dan gula membentuk
larutan sejati dalam air. Suspensi terbentuk bila padatan halus seperti
pasir ditambahkan ke dalam air dan akan terjadi pengendapan.
Partikel-partikel pasir masih kelihatan dan akan mengendap secara
perlahan-lahan. Sedangkan Koloid atau
Kolloid adalah suatu bentuk campuran “metastabil”
(seolah-olah stabil, tapi akan memisah setelah waktu tertentu) yang keadaannya
terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar). Koloid memiliki
partikel-partikel zat yang berukuran sekitar 1-100 nm (10-7 – 10-5
cm) yang tersebar merata dalam zat lain.
Perbedaan
Larutan, Koloid dan Suspensi
No.
|
Larutan
(Dispersi Molekuler)
|
Koloid
(Dispersi Koloid)
|
Suspensi
(Dispersi Kasar)
|
1
|
Memiliki 1 fase
|
Memiliki 2 fase
|
Memiliki 2 fase
|
2
|
Jernih
|
Keruh
|
Keruh
|
3
|
Homogen
|
Antara homogen dan heterogen
|
Heterogen
|
4
|
Memiliki diameter partikel < 1 nm
|
Memiliki diameter partikel 1 nm < d < 100 nm
|
Memiliki diameter partikel > 100 nm
|
5
|
Tidak dapat disaring
|
Tidak dapat disaring dengan penyaringan biasa,
melainkan dengan penyaringan ultra
|
Dapat disaring dengan kertas saring biasa
|
6
|
Tidak memisah jika didiamkan
|
Tidak memisahkan jika didiamkan
|
Memisah jika didiamkan
|
B.
Pengelompokan sistem koloid
Di dalam
larutan koloid, secara umum terdapat 2 zat, yaitu :
-
Zat Pendispersi : zat pelarut di dalam koloid
(jumlahnya lebih banyak)
-
Zat Terdispersi : zat yang terlarut di dalam koloid
(jumlahnya lebih sedikit)
Berdasarkan
fase zat terdispersi, koloid terbagi atas 3 bagian besar, yaitu :
-
Sol :
Sol adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase padat.
-
Emulsi : Emulsi adalah koloid dengan zat
terdispersinya berfase cair.
-
Buih : Buih adalah koloid
dengan zat terdispersinya berfase gas.
TABEL PENGELOMPOKAN SISTEM KOLOID
No.
|
Fase
Pendispersi
|
Fase
Terdispersi
|
Nama
Koloid
|
Contoh
|
1
|
Padat
|
Padat
|
Sol Padat
|
Tanah, kaca, lumpur, paduan logam, gelas warna, intan hitam
|
2
|
Padat
|
Cair
|
Emulsi Padat
|
Mentega, agar-agar, keju, jelly
|
3
|
Padat
|
Gas
|
Busa Padat
|
Batu apung, kasur busa, marshmallow, karet busa, Styrofoam
|
4
|
Cair
|
Padat
|
Sol
|
Cat, tinta, pudding, tepung dalam air, tanah liat
|
5
|
Cair
|
Cair
|
Emulsi
|
Air santan, susu, mayones, lotion wajah, krim tangan
|
6
|
Cair
|
Gas
|
Busa
|
Buih, busa sabun, ombak, krim kocok, busa bir, putih telur yang dikocok
|
7
|
Gas
|
Padat
|
Aerosol Padat
|
Debu di udara, gas knalpot, asap, virus di udara, asap pembakaran
|
8
|
Gas
|
Cair
|
Aerosol Cair
|
Obat semprot, kabut, hairspray di udara, awan
|
SIFAT-SIFAT
KOLOID
1.
Efek TyndallEfek
Tyndall adalah penghamburan cahaya oleh larutan koloid, peristiwa dimana
jalannya sinar dalam koloid dapat terlihat karena partikel koloid dapat menghamburkan
sinar ke segala jurusan. Contoh : Sinar matahari yang dihamburkan partikel
koloid di angkasa menyebabkan langit berwarna biru pada siang hari dan jingga
pada sore hari, debu dalam ruangan akan terlihat jika ada sinar yang masuk
melalui celah kecil di dalam rumah.
2.
Gerak Brown
Gerak
Brown adalah gerak partikel koloid dalam medium pendispersi secara terus
menerus karena adanya tumbukan antara partikel zat terdispersi dan zat
pendispersi. Gerak aktif yang terus menerus ini menyebabkan partikel koloid
tidak memisah jika didiamkan. Contoh : Bila seberkas sinar dipusatkan pada
suatu dispersi koloid yang diamati dengan alat ultra mikroskop maka akan tampak
partikel koloid sebagai partikel-partikel yang kecil yang memantulkan sinar dan
bergerak acak.
3.
Dialisis
Pemurnian
sistem koloid dari ion-ion pengganggu dengan mempergunakan selaput semi
permiabel. Dengan menempatkan koloid dalam selaput semi permeabel yang dapat
ditembus oleh ion-ion, tetapi tidak oleh partikel-partikel koloid. Selaput semi
permeabel yang telah diisi sistem koloid dimasukkan ke dalam aliran air,
sehingga ion-ion dalam sistem koloid akan menembus selaput semi permeabel dan
terbawa air, sedangkan pertikel koloid tertinggal dalam selaput semi permeabel.
Salah satu penerapan dialisis ditemukan dalam proses pencucian darah yang
disebut hemodialisis.
4.
Elektroforesis
Bila arus
listrik dengan tegangan rendah dialirkan ke dalam disperse koloid, maka
partikel-partikel koloid bergerak menuju elektroda positif atau elektroda
negatifnya. Ini membuktikan bahwa partikel-partikel koloid dalam medium
pendispersinya bermuatan listrik.
5.
Adsorpsi
Adsorbsi
Koloid adalah penyerapan zat atau ion pada permukaan koloid. Setiap endapan
yang terbentuk berkecenderungan untuk menarik ionnya sendiri pada permukaan
endapan. Contoh : Koloid Fe(OH)3 akan mengadsorbsi ion H+
sehingga menjadi bermuatan +. Adanya muatan sesama maka koloid
Fe(OH), akan tolak-menolak sesamanya sehingga partikel-partikel koloid tidak
akan saling menggerombol, koloid As2S3 akan mengadsorbsi
ion OH- dalam larutan sehingga akan bermuatan - dan
tolak-menolak dengan sesamanya, maka koloid As2S3 tidak
akan menggerombol.
6.
Koagulasi (Penggumpalan)
Koagulasi
Koloid adalah penggumpalan koloid karena elektrolit yang muatannya berlawanan.
Contoh : Darah akan menggumpal jika dipanaskan, agar-agar akan menggumpal jika
didinginkan
PEMBUATAN
SISTEM KOLOID
1.
Cara Kondensasi
Pembuatan
sistem koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan cara penggumpalan
partikel yang sangat kecil.
Penggumpalan
partikel ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.
Reaksi Pengendapan
Pembuatan
sistem koloid dengan reaksi pengendapan dilakukan dengan mencampurkan larutan
elektrolit sehingga menghasilkan endapan. Contoh :
AgNO3
+ NaCl ―> AgCl(s) + NaNO3
b.
Reaksi Hidrolisis
Pembuatan
sistem koloid dengan reaksi hidrolisis dilakukan dengan mereaksikan suatu zat
dengan air. Contoh :
AlCl3
+ H2O ―> Al(OH)3(s) + HCl
c.
Reaksi Redoks
Pembuatan
sistem koloid dapat terbentuk dari hasil redoks. Contoh :
pada
larutan emas (Emas formaldehid)
AuCL3 + HCOH ―> Au + HCl + HCOOH
d.
Reaksi Penggeseran. Contoh :
pembuatan
sol As2S3 dengan cara mengalirkan gas H2S ke
dalam larutan H3AsO3 encer pada suhu tertentu.
2H3AsO3 + 3H2S ―> 6H2O + As2S3
e.
Reaksi Pergantian Pelarut. Contoh :
pembuatan
gel kalsium asetat dengan cara menambahkan alkohol 96% ke dalam larutan kalsium
asetat jenuh.
2.
Cara Dispersi
Pembuatan
sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan memperkecil partikel
suspensi yang terlalu besar menjadi partikel koloid atau disebut juga pemecahan
partikel-partikel kasar menjadi koloid.
Memperkecil
partikel ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.
Cara Mekanik
Pembuatan
koloid dengan cara mekanik dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel
suspensi dengan cara penggilingan zat padat, dengan menghaluskan butiran besar
kemudian diaduk dalam medium pendispersi. Contoh : Gumpalan tawas digiling,
dicampurkan ke dalam air akan membentuk koloid dengan kotoran air.
b.
Cara Peptisasi
Pembuatan
koloid dengan cara peptisasi dilakukan dengan menambahkan ion sejenis atau
dengan pemecah (pemeptisasi), sehingga partikel endapan akan dipecah. Contoh
:Sol Fe(OH)3 dengan menambahkan FeCL3, Sol NiS dengan
menambahkan H2S
c.
Cara Busur Bredia/Bredig
Pembuatan
koloid dengan cara busur Bredia/Bredig dilakukan dengan mencelupkan 2 kawat
logam (elektroda) yang dialiri listrik ke dalam air, sehingga kawat logam akan
membentuk partikel koloid berupa debu di dalam air contoh: Sol platina, emas
atau perak dibuat dengan cara mencelupkan elektrode logam ke dalam medium
pendispersi, misalnya air dengan potensial listrik tinggi.
d.
Cara Ultrasonik
Pembuatan
koloid dengan cara ultrasonik dilakukan dengan menghancurkan butiran besar
dengan ultrasonik (frekuensi > 20.000 Hz)
PERANAN
KOLOID
Beberapa
kegunaan koloid adalah sebagai berikut :
- Industri Kosmetika
a.
Bahan kosmetika seperti foundation, finishing cream dan deodorant
berbentuk koloid dan umumnya sebagai emulsi yang berperan sebagai sarana
kecantikan.
2.
Industri Makanan
a.
Susu merupakan koloid yang tergolong emulsi dan berperan untuk kesehatan tubuh
manusia.
b.
Mentega merupakan koloid yang tergolong emulsi padat dan berperan sebagai
pengganti minyak dalam memasak.
- Industri Tekstil
a.
Pada proses pencelupan bahan (untuk pewarnaan) yang kurang baik daya serapnya
terhadap zat warna dapat menggunakan zat warna koloid karena memiliki daya
serap yang tinggi sehingga melekat pada tekstil.
- Industri Kebutuhan
Rumah Tangga
a.
Detergen merupakan emulgator untuk membentuk emulsi antara kotoran (minyak)
dengan air sehingga dapat membersihkan kotoran pada tubuh dan pakaian.
b.
Sabut sebagai zat pengemulsi untuk menghilangkan zat pengotor yang tidak
bercampur dengan air.
- Kelestarian
Lingkungan
a.
Untuk mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh pabrik-pabrik, digunakan
suatu alat yang disebut cotrell. Alat ini berfungsi untuk menyerap
partikel-partikel koloid yang terdapat dalam gas buangan yang keluar dari
cerobong asap pabrik.
b.
Pada penjernihan air digunakan aluminium sulfat untuk mengkoagulasi zat
pengotor dalam air.
6.
Bidang Kesehatan
a.
Prinsip dialisis (salah satu sifat koloid) digunakan untuk membantu pasien
gagal ginjal.
Selain itu
ada beberapa aplikasi koloid yang lain dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
1.
Industri Makanan
a.
Pemutihan Gula
Pemutihan
gula merupakan aplikasi dari sistem koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi.
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan dengan melarutkan gula ke dalam
air. Larutan ini kemudian dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau
karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna zat warna dari gula tebu
sehingga gula dapat berwarna putih.
2.
Industri Kosmetika
a.
Deodorant
Deodorant
mengandung aluminium klorida untuk mengkoagulasikan (mengendapkan) protein
dalam keringat. Endapan protein ini dapat menghalangi kerja kelenjar keringat
sehingga keringat dan protein yang dihasilkan berkurang.
3.
Industri Rumah Tangga
a.
Bahan Pencuci
Sabun
sebagai pembersih karena dapat mengemulsi minyak dalam air. Sabun dalam air
tenon menjadi Na dan ion asam lemak. Kepala asam lemak yang bermuatan negatif
larut dalam air, sedangkan ekornya larut dalam minyak. Hal ini menyebabkan
tetesan minyak larut dalam air.
4.
Industri
a.
Kromatografi
Kromatografi
adalah metode pemisahan campuran dengan menggunakan bahan pengadsorpsi,
misalnya kertas kromatografi, pati dan aluminium oksida untuk kromatografi
kolom. Zat-zat organik yang dapat dipisahkan dengan menggunakan metode
kromatografi di antaranya adalah asam amino, protein, lemak, karbohidrat,
vitamin dan hormon.
b.
Lateks
Lateks
adalah koloid karet dalam air, berupa sol bermuatan negatif. Bila ditambah ion
positif, lateks menggumpal dan dapat dibentuk sesuai cetakan.
5.
Bidang Kesehatan
a.
Penggumpalan Darah
Darah
mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka,
maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang
mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut
membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses
penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.
b.
Karbon Aktif
Karbon
aktif merupakan aplikasi koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Karbon aktif
digunakan untuk menyerap zat warna, bau, gas karbon dioksida (CO2),
gas karbon monoksida (CO), H2O dan racun. Karbon aktif ini dibuat
dengan memanaskan arang sehingga terbentuk arang yang sangat berpori. Karbon
aktif digunakan misalnya untuk masker gas, proses penjernihan air, filter rokok
dan norit sebagai obat penetral racun.
6.
Industri Tekstil
a.
Pencelupan Tekstil
Pencelupan
tekstil merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Pada
pencelupan tekstil ini digunakan koloid yang dapat mempercepat pemberian warna.
Koloid yang digunakan adalah dengan mencampurkan Al2(SO4)
dengan Na2CO3 sehingga membentuk koloid Al(OH)3.
Gas CO2 yang berasal dari Na2CO3 membentuk
gelembung yang mengelilingi Al(OH)3 sehingga permukaannya menjadi
berpori, akibatnya dapat menyerap zat warna.
7.
Bidang Lingkungan
a.
Penjernihan Air
Penjernihan
air merupakan aplikasi koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Pada penjernihan
air, digunakan tawas yang memiliki rumus kimia KAl(SO4)2
yang dalam air terhidrasi menjadi koloid Al(OH)3. Koloid Al(OH)3
ini mampu menyerap zat warna dan pestisida.
b.
Pemurnian Air Laut
Pemurnian
air laut merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat dialisis.
Pemurnian air laut dengan menggunakan membran semipermeabel ini menggunakan
metode osmosis terbalik. (reserve osmosis). Osmosis adalah pergerakan
molekul air dari larutan dengan konsentrasi rendah ke larutan yang
konsentrasinya lebih tinggi. Dengan memberikan tekanan yang lebih tinggi pada
larutan yang lebih pekat dibandingkan tekanan osmosisnya, maka gerakan molekul
air akan terbalik.
c.
Pengelolaan Lumpur Aktif
Pengelolaan
lumpur aktif merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat koagulasi.
Pengelolaan air limbah dengan metode lumpur aktif ini menggunakan koagulan PAX
(polialuminium klorida) Al13O4(OH)24(H2O)12
yang menghasilkan Al(OH)3.
d.
Pembentukan Delta di Muara Sungai
Pembentukan
delta di muara sungai merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat
koagulasi. Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat
yang bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+,
Mg+2, dan Ca+2 yang bermuatan positif. Ketika air sungai
bertemu di laut, maka ion-ion positif dari air laut akan menetralkan muatan
pasir dan tanah liat. Sehingga, terjadi koagulasi yang akan membentuk suatu
delta.
e.
Pengambilan Endapan Pengotor
Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses
industri seringkali mengandung zat-zat pengotor berupa partikel-partikel
koloid. Untuk memisahkan pengotor ini, digunakan alat pengendap elektrostatik
yang pelat logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk menarik
partikel-partikel koloid.
Ulasan dan tanggapan:
Jadi, kesimpulannya adalah koloid sangat
erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa koloid yang
menguntungkan dan ada yang merugikan. Tanpa kita sadari sistem koloid telah
terjadi disekitar kita. Contoh dari sistem koloid yang mengguntungkan adalah
proses penjernihan air menggunakan tawas yang menggunakan proses koagulasi, cuci
Darah dengan Dialisis. Darah merupakan suatu sistem koloid. Darah yang
mengandung sisa metabolisme seperti kreatinin, asam ureat, vitamin berlebih,
obat-obatan dan hormon kemudian disaring oleh ginjal. Pada orang yang menderita
kerusakan ginjal atau gagal ginjal, sisa-sisa metabolisme ini tidak dapat
disaring oleh ginjal sehingga dapat meracuni tubuh. Oleh karena itu, pasien
gagal ginjal dicuci darahnya dengan menggunakan alat dialisis yang memiliki
membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini memisahkan darah kotor dengan
larutan dialisat yang konsentrasinya lebih rendah dibandingkan dengan darah.
Sehingga sisa-sisa metabolisme dapat melewati pori-pori membran, sedangkan
sel-sel darah dan zat yang masih berguna dan elektrolit yang partikelnya lebih
besar tidak dapat melewati membran dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh
pasien.
Lihat selengkapnya dihttp://miissu-miisuu.blogspot.com/2012/03/kimia-makalah-koloid.html
Salam Kimia!!!!! Tetap Cinta Kimia
Salam Kimia!!!!! Tetap Cinta Kimia


Tidak ada komentar:
Posting Komentar